Fatwa Mufti Desaku – Bagian 4

Kumpulan insan yang menjunjung sebuah ikatan, yang lebih dari pertemanan, persabahatan, dan jauh lebih berarti dari sekedar perkenalan, yaitu rasa kekeluargaan. sebuah hubungan yang bisa selalu bertahan, dalam ribuan ancaman penderitaan, hingga jutaan kenestapaan, namun tetap dalam satu impian, sebuah kebahagiaan, yang kekal dalam kebersamaan. Pak Zahidin yang memiliki banyak pengalaman, sedang menatap jauh ke arah samudra dalam pandangan, dengan derai nafas kenyamanan. membayangkan negeri setenang lautan, namun hanya berlaku pada pandangan kejauhan. ketika ku lihat lewat prahu nelayan, tak setenang ombak yang dibayangkan, seperti wujud sang rembulan, dalam kejauhan.

Terbangun Pak Zahidin sebelum pagi, mengingat kenangan-kenangannya kembali, menangis teringat masa lalunya yang resahkan hati. Dibalik kewibawaan yang ia miliki, ternyata masa lalunya penuh dengan misteri. Dosa yang telah diperbuat lebih dari yang saudara-saudaranya sadari. Dia kenal penyakit hati,dari iri hingga benci. Dia kenal penyakit diri, dari permainan wanita hingga berjudi. Tapi tak bertahan lama melakukan hal ini, apalagi menjadikannya sebuah konsistensi. Perubahan terus iya rintis seorang diri, tuk sadarkan jiwa nurani, penyesalan menjadi hal yang berarti, tuk hadirkan hidayah ilahi, dan mencapai kepantasan diri.

Meninggal adalah kata bagi Pak Zahidin tua, kepada masa lalunya yang penuh lumuran dosa. Saat ini hanya yakin dalam dirinya, atas panggilan hati yang tlah dihiraukannya. Indah bayangan kehidupan saat tua, ketika kita masih diingatkan janji besar pada Tuhan yang Maha Esa, bukankah indah jika selalu ingat Dzat Sang Pecipta, menjadikan diri kita sebagai hamba pecinta, begitulah gumam Pak Zahidin tua. Baginya, yang harus kita pikirkan bukan satu dua saja, tapi semua, yang menjadikan kita lebih yakin atas apapun yang menunjukan Kebesaran-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *