Fatwa Mufti Desaku – Bagian 3

Pak Zahidin juga mengatasi urusan masa kini, Ia bertemu seorang pemuda lelaki, yang selama hidupnya merasakan patah hati, karena tak kunjung datang si kekasih hati. Pemuda itu mengeluhkan diri, dan bertanya seperti apakah cinta yang sejati, cinta yang lebih dari sekedar janji-janji, Pak Zahidin tentu bilang ia tak akan pernah mengerti, bukan karena di dunia tak ada lagi cinta yang hakiki, apalagi sebuah rasa dari kemurnian hati, karena yang disukai pemuda itu adalah seorang banci.

Sebuah ciri dari Desa adalah solidaritas, dimana tak pernah ada kata menindas, kebersamaan adalah prinsip yang pantas. Pak Zahidin berada di Desa yang tak telalu berkualitas, dalam hal perkembangan generasi emas, karena hanya uang yang membuat warga puas, sehingga mau meninggalkan perncarian selembar kertas, meninggalkan ijazah bukan karena tergabas, tetapi dana dan harta yang telah labas. Pak Zahidin selalu menggagas, mencari pelajaran dari masalah yang panas, sehingga muncul pernyataan bahwa manusia sekarang banyak seperti hewan buas.

Keterbatasan pengetahuan bukan hal buruk baginya, bahkan katanya harus dimiliki setiap Manusia. Pak Zahidin pernah mengkagetkanku dengan bertanya, bagaimana kalau hidup ini kita yang mengaturnya?, apakah indah atau hidup tak ada gunanya?, dimana kerja keras tak lagi ada, ilmu tak diperlukan jua, ke-istiqomah-an tak dijaga, dan tak akan pernah merasakan nestapa. Bukankah keterbatasan ini begitu indah di dunia, menjalani hidup dengan ikhlas adalah idaman utama, jadi jangan pernah khawatir tuk pikirkan semua, segala impian yang telah menjadi rencana. Jangan resah dan gundah gulana, karena manusia punya takdirnya, yang telah diatur oleh Penciptanya, dengan penuh keindahan yang luar biasa.

Memang indah jika kita hidup seperti berburu, mencari misteri hidup melalui sebuah ilmu, apalagi jauh dari kata cemburu, karena banyak manusia yang melihat keberhasilan orang lain akan terganggu. Banyak disini peristiwa yang lucu, menuntut Negara ini bisa lebih maju, namun saudara kita berjuang tak pernah digugu, malah dicaci dimaki dan diganggu. Menyalahkan orang lain bukan hal yang tabu, melainkan kewajiban dan hiburan yang bermutu, saling mendukung adalah ungkapan palsu, mungkin mustahil bangsa agar saling membantu. Ekspresi Pak Zahidin ketika melihat hal itu, seperti melihat ular yang berbulu, hingga ia ucapkan kata dengan nada sendu, sampai kapan musafir berlalu. Penasaran menyelimuti hatiku, apa maksud musafir bagi guruku, ternyata orang yang mengisi sebuah bangku, dalam pemerintahan untuk sementara waktu, bukan bekerja untuk bangsa yang ia tuju, melainkan kayakan diri dengan hasil menipu. Semoga berakhir di Indonesiaku, segala kejahatan semoga cepat berlalu, sehingga ‘Negara Berwibawa’ julukanmu.

Bersambung . . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *