Fatwa Mufti Desaku – Bagian 2

Kehidupan Pak Zahidin tak lepas dari kata senang, bukan karena kaya dan punya harta segudang, tapi karena Ilmu yang dimilikinya sudah matang. Banyak warga desa yang tak ragu untuk datang, mencari solusi agar masalah hidup hilang, wajah kelam disulap menjadi terang, nasehatnya lah yang masyarakat selalu pegang.”bertingkahlah indah dan sedap dipandang, jangan rendahkan dirimu seperti binatang, jika kau ingin melayani maka layani dengan tenang, jika kau ingin berbagi maka berbagilah walaupun sehelai sandang, dan jika kau ingin hidup indah maka hiduplah landasan kasih sayang, karena tak ada kebaikan yang tak dibalas Sang Penyayang, dan tak ada keburukan yang tak bisa terhadang”. 

Jikalau hidupmu penuh kebohongan, maka jangan harap bertemu kesejahteraan, karena kebohongan pasti membawa kesusahan, susah dalam hal penyembunyian kebenaran, sehingga tak akan lama kebohongan akan bertahan, kelak pasti akan terbukti dalam kanyataan. Ku teringat satu penggal kata Pak Zahidin dalam suatu lembaran, “kebohongan sangat mudah dan ringan untuk diucapkan, bahkan orang lemahpun bisa melakukan, tapi awas apabila diminta pertanggung-jawaban, jangan sampai meratapi sebuah penyesalan, apalagi mengecam keburukan suatu kehidupan”, hiduplah dalam jalur kesederhanaan, hindari hal-hal yang menuntut kita melakukan kebohongan. karena kita bisa jauh dari kebarokahan apalagi kebahagiaan.

Pak Zahidin yang selalu terlihat rapi, walau dengan baju seperti tak dicuci, namun bukan berarti baunya tak wangi, bahkan lebih wangi dari kisah palsu politisi, ups.. bukan berarti mencaci, apalagi memaki, cuma tak ada lelucon lagi, semoga yang merasa dicaci lebih mudah mencari solusi, untuk kemakmuran bangsa ini. Banyak orang mengeluh dan mengkritisi, bagaimana pendapat Pak Zahidin tentang ini, tentu dia pasti tak pedulikan sebuah sensasi, yang perlu diperhatikan adalah memperbaiki diri, ya.. diri sendiri, karena hambatan bukan hanya dari petinggi, tapi masyarakat yang tak pernah merasa peduli, jadi jangan saling menyalahkan diri, apalagi saling kritik dan hujan caci maki, yang penting mencari jalan dari masalah yang dimiliki. karena Negara bukan milik pribadi, tapi adalah milik semua orang yang singgah di Ibu Pertiwi

Kisah tragis terjadi di Desa tercintaku, tak ku duga hal ini masih ada di situ, seorang anak kecil yang menyentuh dalam hingga akar kalbu. Ketika ku tanya apa impianmu, jawabannya membuat menetes air mataku. Jika umur empat tahun adalah dunia main-mainan lucu, tidak pada bocah itu, tak punya ayah tak punya ibu, pada siapa ia menuntut hak anak polos dan lugu, pemerintah tak akan bisa tau, karena mungkin mereka sibuk menyanyikan lagu, entah lagu bit maupun sendu, hingga lupa janji pelayanan yang harus dituju. Masihkah kita tak peduli akan hal seperti itu?, masihkah sibuk harta yang diburu?. dan masihkah diam dan menunggu?.

Bangsa butuh relawan, bangsa butuh pahlawan, bangsan butuh perubahan, bangsa butuh pergerakan, dari pemuda yang mau angkat tongkat perjuangan…

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *